Kartini bukan sekadar sosok berkebaya dalam buku sejarah.
Di usia yang masih sangat muda, ia sudah mempertanyakan:
"Kenapa perempuan tidak boleh sekolah tinggi?"
"Kenapa harus ‘dipingit’?"
"Kenapa hanya laki-laki yang bebas menentukan jalan hidupnya?"
Kartini hidup pada masa di mana perempuan:
- Dibatasi ruang geraknya (hanya di rumah & dapur)
- Tidak boleh mengenyam pendidikan tinggi
- Dianggap hanya sebagai pelengkap laki-laki
Tapi Kartini melawan dengan pena dan pemikiran.
Melalui surat-suratnya, ia menyuarakan harapan akan kesetaraan, pendidikan, dan kebebasan bagi perempuan.
"Habis gelap, terbitlah terang."
Perjuangan Kartini bukan tentang melawan pria, tapi tentang memberi ruang bagi perempuan untuk bisa berkembang secara setara.
Realita Masa Kini:
Terjebak Standar Kecantikan?
Zaman boleh berubah, tapi tekanan terhadap perempuan masih ada~ hanya bentuknya yang berbeda. Saat wanita di masa lalu berjuang dengan "pingitan", wanita masa kini berjuang dengan "polesan".
Tidak jarang wanita yang sedari dininya dibiasakan dengan kalimat :
Kalau kamu langsing, pasti makin cantik
Coba deh kamu perawatan, supaya lebih glowing
Dia ideal banget yah ~merujuk pada wanita tinggi semampai, wajah mulus simetris, dan kulit putih terang.
Media sosial, iklan skincare, tren diet ekstrim, membuat standar ini makin masif dan seringkali tidak realistis.
Body Image

Apa Hubungannya dengan Semangat Kartini?
Kartini hidup di masa ketika perempuan hanya dinilai dari:
- Penampilan luar
- Status sosial
- Ketaatan pada aturan tanpa suara
Tapi Kartini berani melawan arus.
Mari lanjutkan semangat Kartini!
"Kamu cantik, kamu cukup, kamu hebat apapun bentuk tubuhmu."