Belakangan ini, tren FURAB—yang berisi konten “ship” antara Fuji dan Reza Arap—muncul secara tiba-tiba dan menyebar luas di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, hingga X.
Mungkin dari kalian ada yang bertanya-tanya juga bagaimana bisa tiba-tiba ramai?
Menariknya, tren ini muncul karena ‘keisengan’ warganet mencocoklogikan momen spontan di podcast Marapthon dan potongan konten tiktok Fuji.
Bahkan, banyak kontennya yang terkesan absurd, aneh, dan menimbulkan kebingungan. Lalu, kenapa tiba-tiba FURAB menjadi sebuah fenomena ya?
Kemungkinan bisa karena hal ini lohhh, yuk kita bahas!
Dalam teori Benign Violation, sesuatu bisa terasa lucu ketika ada pelanggaran terhadap ekspetasi (violation), tapi dalam batas yang aman
FURAB memenuhi dua hal itu: kombinasi yang tidak terduga (Violation) tapi dibungkus dengan candaan (benign). Hasilnya justru bukan dianggap aneh secara negatif, tetapi jadi lucu dan menarik.
Dari sini, orang mulai engage karena merasa terhibur. Ditambah lagi, dengan komentar yang muncul seringkali sarkas, absurd, dan over yang justru membuat kontennya semakin ramai.
Kalau dipikir-pikir kombinasi Fuji dan Reza Arap ini bisa dibilang “janggal”. Namun, itulah daya tariknya.
Semakin sesuatu dianggap lucu, semakin besar kemungkinan orang akan share dan bahkan bikin versi mereka sendiri.
Fenomena ini juga didukung oleh konsep social distance. Dimana orang cenderung lebih mudah menertawakan sesuatu ketika tidak memiliki kedekatan personal dengan objeknya.
Jadi, terasa lebih aman untuk bercanda, ngeship sembarangan dan berkomentar sarkas karena Fuji dan Arap adalah seorang publik figur.
Fenomena FURAB ini juga masuk ke dalam apa yang disebut sebagai ironic culture, yaitu ketika orang berpartisipasi bukan karena benar-benar percaya, tetapi karena mereka sadar bahwa tren ini tidak sepenuhnya serius. Partisipasi dilakukan dengan jarak setengah bercanda dan setengah sadar akan absurditasnya.
Kalau kita bercanda ke temen deket mungkin bisa jadi gak akan selucu itu

cr: X @mukaikhlas
Nah dalam kondisi ini, terbentuk social bonding, karena orang merasa berada pada “frekuensi humor” yang sama dan berbagi pemahaman atas konteks yang sama. Selain itu, ironic culture juga menarik karena bersifat low commitment—individu dapat ikut berpartisipasi tanpa harus benar-benar percaya, sehingga minim risiko sosial.
cr: instagram @derydnta
Banyak dari konten FURAB ini berformat sederhana dan mudah ditiru. Dari sini pola tersebut direplikasi. Satu konten memicu konten lain, sehingga akhirnya timeline dipenuhi format yang mirip.
Fenomena ini dikenal sebagai behavioral contagion. Perilaku menyebar hanya karena sering dilihat dan diulang oleh banyak orang.
Ketika jumlah kontennya semakin banyak dan eksposur nya semakin tinggi, barulah muncul efek berikutnya, yaitu bandwagon effect. Pada tahap ini orang ikut berpartisipasi bukan hanya karena kontennya lucu, tetapi karena melihat bahwa “semua orang juga ikut”.
Ada dorongan untuk tidak ketinggalan tren (FOMO) dan untuk merasa ter-include dalam percakapan sosial yang berlangsung.
Walaupun terkesan tiba-tiba dan absurd, fenomena FURAB ternyata merupakan hasil dari kombinasi berbagai aspek. Mulai dari humor, imitasi, hingga dinamika sosial yang menciptakan daya tarik tersendiri dan membuatnya berkembang menjadi sebuah tren.
Jadi, apakah kamu tim pengamat, penikmat,
atau jangan-jangan salah satu shipper FURAB?