Standar sukses adalah masuk PTN ternama!
Di indonesia, masuk PTN sering kali terasa lebih dari sekedar melanjutkan pendidikan tetapi juga sebagai bentuk “simbol keberhasilan” atau “kesuksesan”. Sebaliknya, jika tidak berhasil masuk PTN, banyak yang merasa tertinggal, gagal, atau bahkan kecewa terhadap dirinya sendiri. Jika kita lihat dari perspektif psikologi, fenomena ini tidak muncul secara alami. Bisa jadi cara seseorang memahami “kesuksesan” atau “masa depan” dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya tempat ia bertumbuh.
Menurut Yoesoep Edhie Rachmad dalam pembahasan mengenai social constructivism, pemahaman masyarakat mengenai suatu “kebenaran” dapat terbentuk melalui narasi sosial yang terus diulang dan diperkuat oleh institusi seperti pendidikan dan media.
Banyak dari kita tumbuh di lingkungan yang terus menunjukkan bahwa PTN adalah tujuan utama. Sekolah bangga ketika banyak siswanya lolos PTN, ada bimbel khusus UTBK, sosmed dipenuhi postingan pengumuman kampus negeri, hingga percakapan sehari-hari.
Seakan-akan PTN bukanlah salah satu pilihan pendidikan tetapi menjadi
“Standar utama keberhasilan“
“Target PTN mana?”
“Sayang banget kalau gak masuk PTN”
“Kayaknya PTN ini ketinggian buat kamu”
Proses terbentuk “standar” tersebut sebenarnya terlihat sedehana dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti:
Sekolah memasang banner siswa yang lolos PTN. guru memberi dorongan fokus UTBK, bimbel menawarkan program khusus masuk kampus negeri, dan lain-lain.
Ini semua muncul terus menerus, hingga membentuk pemahaman “PTN adalah tujuan ideal untuk dicapai”. Akibatnya, siswa merasa bahwa mengejar PTN bukan sekadar pilihan tetapi sesuatu yang “harus” dilakukan.
Rachmad, Y. E. (2025). SOCIAL CONSTRUCTIVISM THEORY. United Nations Economic and Social Council. https://doi.org/10.17605/osf.io/cs7gw
Budaya tidak hanya memengaruhi apa yang dipikirkan seseorang, tetapi juga bagaimana seseorang berpikir. Indonesia dikenal dengan budaya kolektifnya. Di mana, seseorang cenderung melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok sosialnya.
“In collectivistic contexts, the self is defined in relation to others” seseorang menilai dirinya sangat dipengaruhi oleh hubungan dan penilaian dari orang lain.
Masuk PTN sering kali tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian pribadi. Tetapi berkaitan juga dengan kebanggaan keluarga, pengakuan sosial, dan ekspektasi lingkungan. Sebaliknya, rasa kecewa yang muncul juga terasa lebih besar karena berkaitan dengan relasi sosial tersebut.
Namun, penting untuk dipahami bahwa melihat fenomena ini dari sudut pandang psikologi bukan berarti mengatakan bahwa PTN tidak penting atau tidak layak diperjuangkan.
PTN tetap memiliki banyak kelebihan yang nyata, baik dari segi biaya, akses pendidikan, maupun reputasi akademik.
Melalui perspektif ini, kita bisa melihat bahwa cara masyarakat memandang PTN ternyata juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya tempat seseorang itu tumbuh.
Oyserman, D., & Lee, S. W. S. (2008). Does Culture Influence What and How We Think? Effects of Priming Individualism and Collectivism. Psychological Bulletin, 134(2), 311–342. https://doi.org/10.1037/0033-2909.134.2.311