Skip to Content

What's The Rush : Kenapa Masih Ada yang Terobos Palang Perlintasan?

June 17, 2026 by
Catalyst Dev
| No comments yet

27 April 2026, malam hari. Sebuah taksi menerobos palang perlintasan di Jalan Ampera, Bekasi Timur, meski palang sudah tertutup. Lalu saat di tengah rel, taksi itu mogok karena korsleting yang menyebabkan KRL dari Cikarang menghantam taksi. KRL lain di Stasiun Bekasi Timur terpaksa berhenti.

Lalu datang KA Argo Bromo Anggrek dari Jakarta dengan kecepatan tinggi, tanpa cukup informasi bahwa ada kereta yang berhenti di depannya. Tabrakan pun tak terhindarkan.

16 penumpang KRL meninggal dunia. Kecelakaan ini bukan semata kesalahan satu orang. Tetapi rangkaian itu semua dimulai dari satu titik: sebuah keputusan di palang perlintasan.

Kenapa banyak orang yang nekat terobos palang perlintasan?

Optimism Bias 

Kecenderungan orang untuk berasumsi bahwa semuanya akan baik-baik saja, tanpa benar-benar mempertimbangkan kemungkinan adanya outcome negatif (kemungkinan terburuk) disebut optimism bias.

Kita cenderung fokus pada kemungkinan terbaik dan mengabaikan kemungkinan terburuk, apalagi kalau sebelumnya kita pernah melakukannya tanpa masalah.

Pengemudi yang sudah terbiasa menerobos palang kemungkinan tidak lagi mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi, seperti kendaraan mogok di tengah rel, tersangkut, atau kehilangan kendali. Yang ada di benak mereka hanya satu: sudah berkali-kali lewat, pasti aman lagi.

Source: Sharot, T. (2011). The optimism bias. Current biology, 21(23), R941-R945.

System 1 Thinking

Psikolog Daniel Kahneman membedakan dua sistem berpikir:

Di perlintasan, apalagi kalau kita terburu-buru, otak pakai System 1. Kita tidak benar-benar menghitung risiko. Kita bereaksi berdasarkan kebiasaan dan insting. 

Ketika melihat ada celah atau kesempatan untuk menerobos palang, kita tidak benar-benar berhenti untuk menimbang risiko. Otak langsung memproses: "ada kesempatan nih, langsung terobos aja." 

Source: Kahneman, D. (2011). Fast and slow thinking. Allen Lane and Penguin Books, New York, 2.

  Social Proof

Ini yang disebut Social Proof, yaitu kecenderungan seseorang untuk meniru perilaku orang lain, terutama dalam situasi yang ambigu. Kita menganggap bahwa kalau orang lain melakukannya, berarti tindakan tersebut aman atau benar untuk dilakukan.

Ketika satu kendaraan menerobos palang dan berhasil melintas, pengemudi di belakangnya cenderung langsung mengikuti tanpa memproses ulang apakah situasinya benar-benar masih aman.

Otak tidak lagi menilai sendiri, tapi mengikuti keputusan orang lain sebagai acuan.

Kita semua punya celah dalam cara kita berpikir. Tapi kita bisa memilih.

Semua ini bukan tanda bahwa manusia itu ceroboh atau bodoh. Tapi ini memang cara alami otak bekerja.

Di momen yang hanya sebentar—seperti di perlintasan kereta atau lampu merah—cara kita berpikir bisa membawa akibat yang tak bisa dibatalkan.

Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi kita bisa memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak perlu terulang, dimulai dari keputusan kita sendiri.
Sign in to leave a comment