Belakangan ini, sekelompok mahasiswa hukum dari salah satu universitas top di Indonesia terekspos karena isi group chat mereka.

Ini mencerminkan beberapa masalah yang besar:
- Bagaimana seseorang bisa membenarkan ucapan yang harmful dalam ruang yang dianggap “aman”.
- Mereka ada di bidang hukum yang harusnya paham benar dan salah serta konsekuensi dari perbuatannya namun tetap melakukan.
- Mereka melupakan perannya sebagai seorang anak dari seorang ibu, siswa dari seorang dosen perempuan, kakak/adik dari saudara perempuan, dan kelak akan jadi pasangan dari seorang perempuan.
RAPE CULTURE
Rape culture adalah budaya di mana kekerasan seksual dianggap biasa, diremehkan, atau bahkan dibenarkan.
Hal-hal yang dianggap “ringan” atau familiar disebut “boys talk” seperti jokes tongkrongan yang berarah seksual dan melecehkan jika terus dibiarkan bisa membuka jalan awal bagi bentuk kekerasan yang lebih serius.
Dari kata jadi perilaku
The psychology behind it
Ford & Ferguson (2004) menemukan bahwa paparan terhadap humor seksis dapat meningkatkan toleransi terhadap diskriminasi. Humor dapat menempatkan individu dalam kondisi noncritical mindset, sehingga mereka cenderung menilai pesan tersebut sebagai tidak berbahaya.
Selain itu, perilaku agresif dipengaruhi oleh social learning. Paparan berulang terhadap bahasa yang merendahkan dapat membentuk persepsi bahwa perilaku tersebut dapat diterima dalam konteks sosial.
Dalam konteks kelompok, Thomae & Pina (2015) menemukan bahwa humor seksis dapat memperkuat kohesi dalam kelompok laki-laki, sekaligus berkorelasi dengan meningkatnya kecenderungan victim blaming dan toleransi terhadap pelecehan seksual.
“Cuma jokes”
itu tetap punya dampak nyata.
Studi juga menunjukkan lingkungan yang mentoleransi jokes seperti ini membuat korban lebih enggan speak up.
Journal of Interpersonal Violence
Do Better!
Don’t Be a Bystander
Diam pilihan paling “aman”, tapi itu adalah bentuk andil kita membenarkan dan bahkan bisa memperkuat perilaku tersebut.